"PROFIL IR.SOEKARNO"
Dr.(HC) Ir.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966
pada sidang umum ke empat tahun 1967, Soekarno diberhentikan dari
jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang
sama dan Soeharto menggantikannya sebagai pejabat Presiden Republik
Indonesia.
Nama
Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Kusno oleh orangtuanya.[3] Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur lima tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.[3][5] Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna.[3][5] Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".[5]
Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi
karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (
Belanda)
[5]:32.
Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda
tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam
yang tidak boleh diubah, selain itu tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun
[5]:32. Sebutan akrab untuk Soekarno adalah
Bung Karno.
Achmed Soekarno
Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis
.
Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke
Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil
Soekarno?"
karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia
yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki
.
Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan ibadah haji.
Dalam beberapa versi lain,
[butuh rujukan]
disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh
para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar
negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara
Indonesia oleh negara-negara
.
Dalam buku
(terjemahan Syamsu Hadi. Ed. Rev. 2011. Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno,
ISBN 979-911-032-7-9)
halaman 32 dijelaskan bahwa namanya hanya "Sukarno" saja, karena dalam
masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa memiliki nama yang
terdiri satu kata.
Kehidupan
Masa kecil dan remaja
Rumah masa kecil Bung Karno
Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama
dan ibunya yaitu
Ida Ayu Nyoman Rai.
[3]Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di
Sekolah DasarPribumi di
Singaraja,
Bali.
[3]Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama
Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama
Islam.
[3]Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir.
[7]Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya,
Raden Hardjokromodi
Tulung Agung,
Jawa Timur.
[3]
Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke
, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut.
[3]Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke
Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja.
[7]Kemudian pada
Juni 1911Soekarno dipindahkan ke
Europeesche Lagere School (ELS)untuk memudahkannya diterima di
Hogere Burger School (HBS).
[3]Pada tahun
1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur.
[3]Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama
H.O.S. Tjokroaminoto.
[3]Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya.
[3]Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin
Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti
Alimin,
Musso,
Dharsono,
Haji Agus Salim, dan
Abdul Muis.
[3]Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda
Tri Koro Dharmoyang dibentuk sebagai organisasi dari
Budi Utomo.
[3]Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi
Jong Java(Pemuda Jawa) pada
1918.
[3]Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.
[7]
Soekarno sewaktu menjadi siswa HBS Soerabaja
Soekarno bersama mahasiswa pribumi TH Bandung tahun 1923. Baris belakang dari kiri ke kanan: M. Anwari, Soetedjo, Soetojo, Soekarno,
R. Soemani, Soetono/Soetoto(?), R. M. Koesoemaningrat, Djokoasmo,
Marsito. Duduk di depan: Soetono/Soetoto(?), M. Hoedioro, Katamso.
Tamat
Soerabaja bulan
Juli 1921[8], bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan di HBS, Soekarno melanjutkan ke
Technische Hoogeschool te Bandoeng(sekarang
ITB) di
Bandungdengan mengambil jurusan
teknik sipilpada tahun
1921[9], setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun
1922mendaftar kembali
[9]dan tamat pada tahun
1926.
[10]Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal
25 Mei 1926dan pada
Dies Nataliske-6
TH Bandungtanggal
3 Juli 1926dia diwisuda bersama delapan belas
insinyurlainnya.
[11]Prof.
Jacob Clayselaku ketua fakultas pada saat itu menyatakan
"Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang insinyur orang Jawa".
[11]Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo
[12], selain itu ada seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang.
[12]
Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman
yang merupakan anggota
Sarekat Islamdan sahabat karib Tjokroaminoto.
[3]Di sana ia berinteraksi dengan
Ki Hajar Dewantara,
Tjipto Mangunkusumo, dan
Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi
National Indische Partij.
Sebagai arsitek
Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai
alumni dari
Technische Hoogeschool te Bandoeng(sekarang
ITB) di
Bandungdengan mengambil jurusan
teknik sipildan tamat pada tahun
1926.
[13][14][15]
Pekerjaan dan Karya di Bidang Arsitektur
- Ir. Soekarno pada tahun 1926 mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya.
- Ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid Jami' di tengah kota.[16]
Pengaruh Terhadap Karya Arsitektural Semasa Menjadi Presiden
Semasa menjabat sebagai presiden, ada beberapa karya arsitektur yang
dipengaruhi atau dicetuskan oleh Soekarno. Juga perjalanan secara
maraton dari bulan Mei sampai Juli pada tahun
ke negara-negara
Amerika Serikat,
Kanada,
Italia,
Jerman Barat, dan
Swiss.
Membuat cakrawala alam pikir Soekarno semakin kaya dalam menata
Indonesia secara holistik dan menampilkannya sebagai negara yang baru
merdeka
. Soekarno membidik
Jakarta
sebagai wajah (muka) Indonesia terkait beberapa kegiatan berskala
internasional yang diadakan di kota itu, namun juga merencanakan sebuah
kota sejak awal yang diharapkan sebagai pusat pemerintahan di masa
datang. Beberapa karya dipengaruhi oleh Soekarno atau atas perintah dan
koordinasinya dengan beberapa arsitek seperti
dan R.M. Soedarsono, dibantu beberapa arsitek junior untuk visualisasi.
Beberapa desain arsitektural juga dibuat melalui sayembara
- Masjid Istiqlal 1951
- Monumen Nasional 1960
- Gedung Conefo [18]
- Gedung Sarinah [18]
- Wisma Nusantara [18]
- Hotel Indonesia 1962[19]
- Tugu Selamat Datang[19]
- Monumen Pembebasan Irian Barat[19]
- Patung Dirgantara[19]
- Tahun 1955
Ir. Soekarno menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan sebagai seorang
arsitek, Soekarno tergerak memberikan sumbangan ide arsitektural kepada
pemerintah Arab Saudi agar membuat bangunan untuk melakukan sa’i menjadi dua jalur dalam bangunan dua lantai. Pemerintah Arab Saudi akhirnya melakukan renovasi Masjidil Haram secara besar-besaran pada tahun 1966, termasuk pembuatan lantai bertingkat bagi umat yang melaksanakan sa’i menjadi dua jalur dan lantai bertingkat untuk melakukan tawaf [15] - Rancangan skema Tata Ruang Kota Palangkaraya yang diresmikan pada tahun 1957 [15]
Keluarga Soekarno
Masa pergerakan nasional
Soekarno untuk pertama kalinya menjadi terkenal ketika dia menjadi anggota
cabang Surabaya pada tahun 1915. Bagi Soekarno sifat organisasi
tersebut yang Jawa-sentris dan hanya memikirkan kebudayaan saja
merupakan tantangan tersendiri. Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan
Jong Java cabang Surabaya Soekarno menggemparkan sidang dengan berpidato
menggunakan
(kasar). Sebulan kemudian dia mencetuskan perdebatan sengit dengan menganjurkan agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam
bahasa Melayusaja, dan bukan dalam
bahasa Belanda.
[20]
Pada tahun
, Soekarno mendirikan
Algemene Studie Clubdi Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari
Indonesische Studie Cluboleh
Dr. Soetomo.
[3]Organisasi ini menjadi cikal bakal
Partai Nasional Indonesiayang didirikan pada tahun
1927.
[10]Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember
1929di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke
Penjara Banceuy. Pada tahun
1930ia dipindahkan ke
Sukamiskindan pada tahun itu ia memunculkan pledoinya yang fenomenal
Indonesia Menggugat(pledoi), hingga dibebaskan kembali pada tanggal
31 Desember 1931.
Pada bulan Juli
,
Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan
pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus
, dan diasingkan ke
Flores.
Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun
semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada
seorang Guru
bernama
Ahmad Hasan.
Pada tahun
hingga tahun
1942Soekarno diasingkan ke
Provinsi Bengkulu.
Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun
.
Masa penjajahan Jepang
Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang
sempat tidak memerhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama
untuk "
" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada
Gerakan 3Adengan tokohnya
Shimizudan
Mr. Syamsuddinyang kurang begitu populer.
Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memerhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno,
,
dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga
untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai
organisasi seperti
, Pusat Tenaga Rakyat (
Putera),
BPUPKIdan
PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta,
Ki Hajar Dewantara,
K.H. Mas Mansyur,
dan lain-lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya
tokoh-tokoh nasional bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang
untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan
gerakan bawah tanah seperti
dan
Amir Sjarifuddinkarena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan
teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita
bekerja sama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta
mengandalkan kekuatan sendiri.
Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan
,
UUD 1945,
dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah
proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke
.
Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang
mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki
Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar
.
Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga
tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat
pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa
ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada
bulan Agustus 1945, ia diundang oleh
,
pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang
kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan
rakyat Indonesia sendiri.
Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan
membuat Soekarno dituduh oleh
Belandabekerja sama dengan Jepang, antara lain dalam kasus
romusha.
Masa Perang Revolusi
Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang
. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
BPUPKI,
Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil
yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan
Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Setelah menemui Marsekal Terauchi di
,
Vietnam, terjadilah
Peristiwa Rengasdengklokpada tanggal
16 Agustus 1945; Soekarno dan
Mohammad Hattadibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air
PetaRengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain
Soekarni,
Wikana,
Singgihserta
Chairul Saleh.
Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan.
Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum
tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan
menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang
berkembang adalah Soekarno menetapkan momen tepat untuk kemerdekaan
Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan
dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan
bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada
yakni
Al Qur-an.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh
PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada
tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden
dikukuhkan oleh
.
Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan
tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada tempat 200.000 rakyat
Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata
lengkap.
Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir
, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara
de facto
setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden
Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat
provokasi yang dilancarkan pasukan
(
Belanda) yang membonceng Sekutu (di bawah Inggris), meledaklah
Peristiwa 10 November1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jenderal
A.W.S Mallaby.
Karena banyak provokasi di
pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik
Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan
pejabat tinggi negara lainnya.
Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (
/
single executive). Selama revolusi kemerdekaan, sistem pemerintahan berubah menjadi semipresidensiil/
double executive.
Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai
Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya
maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November
1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia
dianggap negara yang lebih demokratis.
Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan,
kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam
menghadapi
serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden
Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi
negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada
(PDRI) dengan ketua
Sjafruddin Prawiranegara,
tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri
tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang
sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa
Indonesia-Belanda.
Masa kemerdekaan
Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah
menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat
sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta
diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik
Indonesia diserahkan kepada Mr
,
yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari
seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka
pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik
Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat
sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir.
Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden
konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan
setelah berkonsultasi dengannya.
Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat di
kalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana
menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet seumur
jagung" membuat Presiden Soekarno kurang memercayai sistem multipartai,
bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga
ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga
berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa
dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.
Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa
-
Afrika,
masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya
sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil
inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang
menghasilkan
.
Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik
akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap
masih mementingkan
dan
kolonialisme,
ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang mengubah
peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam
penyelesaian konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden
(
Yugoslavia),
Gamal Abdel Nasser(
Mesir),
Mohammad Ali Jinnah(
Pakistan),
U Nu, (
Birma) dan
Jawaharlal Nehru(
India) ia mengadakan
Konferensi Asia Afrikayang membuahkan
Gerakan Non Blok.
Berkat jasanya itu, banyak negara Asia Afrika yang memperoleh
kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami
konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam
pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa.
Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang
tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.
Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia
internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu
dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah
(
Uni Soviet),
John Fitzgerald Kennedy(
Amerika Serikat),
Fidel Castro(
Kuba),
Mao Tse Tung(
RRC).
Masa Keterpurukan
Situasi
menjadi tidak menentu setelah enam
jenderaldibunuh dalam peristiwa yang dikenal dengan sebutan
Gerakan 30 Septemberatau G30S pada
1965.
[10][21]Pelaku sesungguhnya dari peristiwa tersebut masih merupakan kontroversi walaupun PKI dituduh terlibat di dalamnya.
[10]
Kemudian massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI
(Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan
menyampaikan
(Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan.
[21]Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena bertentangan dengan pandangan
Nasakom(Nasionalisme, Agama, Komunisme).
[4][21]Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik.
[4][10]
Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah
yang ditandatangani oleh Soekarno.
[21]Isi dari surat tersebut merupakan perintah kepada
Letnan Jenderal Soehartountuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.
[21]Surat tersebut lalu digunakan oleh
Soehartoyang telah diangkat menjadi
Panglima Angkatan Daratuntuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang.
[21]
Kemudian MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No. IX/1966
tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No. XV/1966 yang
memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk
setiap saat menjadi presiden apabila presiden berhalangan.
Soekarno kemudian membawakan pidato pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV
.
[21]Pidato tersebut berjudul "
Nawaksara" dan dibacakan pada
22 Juni 1966.
[4]MPRS kemudian meminta Soekarno untuk melengkapi pidato tersebut.
[21]Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Soekarno pada
10 Januari 1967namun kemudian ditolak oleh MPRS pada
16 Februaritahun yang sama.
[21]
Hingga akhirnya pada
Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di
Istana Merdeka.
[22]Dengan ditandatanganinya surat tersebut maka Soeharto
de factomenjadi kepala pemerintahan Indonesia.
[22]
Setelah melakukan Sidang Istimewa maka MPRS pun mencabut kekuasaan
Presiden Soekarno, mencabut gelar Pemimpin Besar Revolusi dan mengangkat
Soeharto sebagai Presiden RI hingga diselenggarakan
berikutnya.
[22]
Sakit hingga meninggal
Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan
.
[22]Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan
ginjaldan pernah menjalani perawatan di
Wina,
Austriatahun
1961dan
1964.
[22]
Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina
menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia menolaknya dan
lebih memilih pengobatan tradisional.
Ia masih bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu,
21 Juni 1970di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat)
Gatot Subroto,
Jakartadengan status sebagai tahanan politik.
[3][22]Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh
Ratna Sari Dewi.
[22]Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter
Mahar Mardjonoyang merupakan anggota tim dokter kepresidenan.
[22]
Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani
oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal
Dr. (TNI AD)
.
[22]
Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:
- Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Ir. Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.
- Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir. Soekarno dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.
- Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir. Soekarno hingga saat meninggalnya.
Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di
Batu Tulis,
Bogor, namun pemerintahan Presiden
Soehartomemilih Kota
Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno.
[22]Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun
1970.
[22]Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.
[22]Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara.
[22]Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.
[22]
Peninggalan
Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Soekarno pada
, maka Kantor
Filateli Jakartamenerbitkan
prangko"100 Tahun Bung Karno".
[7]Prangko yang diterbitkan merupakan empat buah prangko berlatar belakang bendera
Merah Putihserta menampilkan gambar diri Soekarno dari muda hingga ketika menjadi Presiden Republik Indonesia.
[7]
Prangko pertama memiliki nilai nominal Rp500 dan menampilkan potret
Soekarno pada saat sekolah menengah. Yang kedua bernilai Rp800 dan
gambar Soekarno ketika masih di perguruan tinggi tahun
-an
terpampang di atasnya. Sementara itu, prangko yang ketiga memiliki
nominal Rp900 serta menunjukkan foto Soekarno saat proklamasi
kemerdekaan RI. Prangko yang terakhir memiliki gambar Soekarno ketika
menjadi Presiden dan bernominal Rp1000. Keempat prangko tersebut
dirancang oleh Heri Purnomo dan dicetak sebanyak 2,5 juta set oleh Perum
Peruri.
Selain prangko, Divisi Filateli PT Pos Indonesia menerbitkan juga lima
macam kemasan prangko, album koleksi prangko, empat jenis kartu pos, dua
macam poster Bung Karno serta tiga desain kaus Bung Karno.
Prangko yang menampilkan Soekarno juga diterbitkan oleh Pemerintah
pada tanggal
19 Juni 2008. Prangko tersebut menampilkan gambar Soekarno dan presiden Kuba
Fidel Castro.
[23]Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan kunjungan
Presiden Indonesia, Soekarno, ke
Kuba.
Nama Soekarno pernah diabadikan sebagai nama sebuah gelanggang olahraga pada tahun
. Bangunan tersebut, yaitu
Gelanggang Olahraga Bung Karno, didirikan sebagai sarana keperluan penyelenggaraan
Asian GamesIV tahun
1962di
Jakarta. Pada masa
Orde Baru, kompleks olahraga ini diubah namanya menjadi
Gelora Senayan. Tapi sesuai keputusan Presiden
Abdurrahman Wahid, Gelora Senayan kembali pada nama awalnya yaitu
Gelanggang Olahraga Bung Karno. Hal ini dilakukan dalam rangka mengenang jasa Bung Karno.
[24]
Setelah kematiannya, beberapa
dibuat atas nama Soekarno. Dua di antaranya adalah Yayasan Pendidikan
Soekarno dan Yayasan Bung Karno. Yayasan Pendidikan Soekarno adalah
organisasi yang mencetuskan ide untuk membangun
dengan pemahaman yang diajarkan Bung Karno. Yayasan ini dipimpin oleh
Rachmawati Soekarnoputri, anak ke tiga Soekarno dan
Fatmawati. Pada tahun 25 Juni 1999
Presiden Bacharuddin Jusuf Habibiemeresmikan
Universitas Bung Karnoyang secara resmi meneruskan pemikiran Bung Karno,
Nation and Character Buildingkepada mahasiswa-mahasiswanya.
[25]
Sementara itu, Yayasan Bung Karno memiliki tujuan untuk mengumpulkan dan melestarikan benda-benda
maupun nonseni kepunyaan Soekarno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
[26]Yayasan tersebut didirikan pada tanggal
1 Juni 1978oleh delapan putra-putri Soekarno yaitu
Guntur Soekarnoputra,
Megawati Soekarnoputri,
Rachmawati Soekarnoputri,
Sukmawati Soekarnoputri,
Guruh Soekarnoputra,
Taufan Soekarnoputra,
Bayu Soekarnoputra, dan
Kartika Sari Dewi Soekarno.
[26]Pada tahun
2003, Yayasan Bung Karno membuka stan di Arena
Pekan Raya Jakarta.
[7]
Di stan tersebut ditampilkan video pidato Soekarno berjudul "Indonesia
Menggugat" yang disampaikan di Gedung Landraad tahun 1930 serta
foto-foto semasa Soekarno menjadi presiden.
Selain memperlihatkan video dan foto, berbagai cenderamata Soekarno dijual di stan tersebut.
[7]Di antaranya adalah kaus, jam
emas, koin emas,
CDberisi pidato Soekarno, serta kartu pos Soekarno.
[7]
Seseorang yang bernama Soenuso Goroyo Sukarno mengaku memiliki harta benda warisan Soekarno.
Soenuso mengaku merupakan mantan sersan dari
Batalyon ArtileriPertahanan Udara Sedang.
[7]Ia pernah menunjukkan benda-benda yang dianggapnya sebagai warisan Soekarno itu kepada sejumlah wartawan di rumahnya di
Cileungsi,
Bogor.
[7]Benda-benda tersebut antara lain sebuah lempengan emas kuning murni 24 karat yang terdaftar dalam register emas JM
London, emas putih dengan cap tapal kuda JM Mathey London serta plakat
logamberwarna kuning dengan tulisan ejaan lama berupa
depositohibah.
[7]Selain itu terdapat pula uang UBCN (
Brasil) dan
Yugoslaviaserta sertifikat deposito
obligasigaransi di
Bank Swissdan Bank Netherland.
[7]Meskipun emas yang ditunjukkan oleh Soenuso bersertifikat namun belum ada pakar yang memastikan keaslian dari emas tersebut.
[27]
Penghargaan
Semasa hidupnya, Soekarno mendapatkan gelar
dari 26
universitasdi dalam dan luar negeri.
[28]Perguruan tinggi dalam negeri yang memberikan gelar kehormatan kepada Soekarno antara lain
Universitas Gajah Mada(19 September 1951),
Institut Teknologi Bandung(13 September 1962),
Universitas Indonesia(2 Februari 1963),
Universitas Hasanuddin(25 April 1963),
Institut Agama Islam Negeri Jakarta(2 Desember 1963),
Universitas Padjadjaran(23 Desember 1964), dan Universitas Muhammadiyah (1 Agustus 1965).
[28]Sementara itu,
Universitas Columbia(
Amerika Serikat),
Universitas Berlin(
Jerman),
Universitas Lomonosov(
Rusia) dan
Universitas Al-Azhar(
Mesir) merupakan beberapa universitas luar negeri yang menganugerahi Soekarno dengan gelar Doktor Honoris Causa.
[28]
Pada bulan
, Soekarno yang sudah meninggal selama 35 tahun mendapatkan penghargaan dari Presiden
Afrika Selatan Thabo Mbeki.
[7]Penghargaan tersebut adalah penghargaan bintang kelas satu
The Order of the Supreme Companions of OR Tamboyang diberikan dalam bentuk
medali,
pin,
tongkat, dan
lencanayang semuanya dilapisi
emas.
[7]
Soekarno mendapatkan penghargaan tersebut karena dinilai telah
mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh
negara maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan
dalam melawan
dan membebaskan diri dari
apartheid.
[7]Acara penyerahan penghargaan tersebut dilaksanakan di Kantor Kepresidenan Union Buildings di
Pretoriadan dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri yang mewakili ayahnya dalam menerima penghargaan.
[7]Source
Comments
Post a Comment