SURYA.co.id | SURABAYA - Puluhan seniman tradisional Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya tak bisa lagi latihan dan menggelar pementasan.
Peralatan gamelan dan sound system di Gedung Pringgondani THR diangkut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparta) Kota Surabaya. Gedung ini kini digembok sehingga seniman tak bisa latihan dan manggung.
Mereaksi hal tersebut, seluruh perwakilan seniman yang biasa tampil di THR itu pun turun jalan dan mengadu ke DPRD Kota Surabaya, Jumat (17/5/2019).
Selain mereka, ada anak-anak kecil ikut aksi unjuk rasa dengan menari remo. Semua pelaku seni itu berontak lantaran tak bisa lagi tampil di THR.
Di gedung kesenian yang sudah melegenda di Suranaya itu, para seniman tak lagi bisa memanfaatkan gedung itu lagi. "
Gamelan, sound system, dan lampu panggung, semua ditarik oleh Pemkot (Pemerintah Kota), dan gedung Pringgondani sudah digembok," ungkap Titik Subiyakti, Ketua Komunitas Seniman Tradisi THR.
Perempuan ini dalam aksinya mengenakan kostum tokoh Nyi Roro Kidul lengkap dengan ujung kepala dipasangi stik dupa yang dibakar.
Dengan nada sedih, ‘Nyi Roro Kidul’ itu menceritakan detik-detik ruang pentas mereka digembok. Para seniman menyebut yang menggembok adalah orang-orang dari Disparta Kota Surabaya.
]"Saat kami mau tampil pada Jumat malam, tahu-tahu gedung Pringgondani digembok. Gamelan sudah diangkut Kamis, 9 Mei lalu. Selama ini para seniman rutin latihan dan Jumat malam tampil, disaksikan penonton ataupun tidak," urai Titik.
Selain Titik, banyak seniman THR yang dalam aksi demonya di kantor DPRD itu tampil sebagai tokoh Gatut Kaca, tokoh punakawan mulai Petruk, Gareng, Semar, hingga tokoh Hanoman.
Source
Comments
Post a Comment